Tuesday, 10 April 2012

Fanatisme Buta Kelompok Suporter Di Indonesia

Oleh : Folly Akbar
Ketika tim kebanggaan saya, Persib Bandung dikalahkan Persiba Balikpapan sekitar 2 minggu lalu. Saya sedikit kesal dan menghujat, lalu salah seorang teman saya menegur ”ngapain kamu segitunya? Emang kalau persib kalah kamu kenapa? Apa pemain, offisial, pelatih itu saudara kamu?” Kejadian inilah, yang membawa saya tertarik untuk mengkaji fanatisme masyarakat akan sepak bola, khususnya di Indonesia.
Jika kita membandingkan kultur Sepak Bola Inggris, Italia, Spanyol atau negara tetangga kita Malaysia, fanatisme masyarakat Indonesia akan klub kesayanganya bisa dikatakan yang termasif. Di Indonesia, kecintaan masyarakat akan tim idolanya sangatlah luar biasa, mereka rela tidak makan dan menjual harta benda miliknya demi melihat tim kesayanganya bermain. Bahkan mereka rela mengorbankan jiwanya ketika tim kesayanganya di lecehkan kelompok suporter lainya.
Dalam sepak bola Indonesia, fanatisme yang berlebihan telah melahirkan permusuhan antar kelompok suporter hampir di seluruh penjuru nusantara, antara lain Bonek(Persebaya) Vs Aremania(Arema), The Jack(Persija) Vs Viking(Persib), Banaspati(Persijap) Vs Snex(PSIS), Boromania(persibo) vs LA Mania(Persela) dan masih banyak kelompok lainya. Fanatisme berlebihan yang kerap kali menimbulkan anarkisme tentu bukan rivalitas yang sehat, dan menjadi sangat tidak logis karena perilaku suporter mulai menabrak nilai dan norma yang ada dimasyarakat.
Contoh kasus terbaru, sekitar 1 bulan yang lalu beberapa suporter Persebaya harus dirawat di rumah sakit. Kejadian berawal ketika bonek yang hendak melihat tim nya bermaian melawan Persibo berangkat menggunakan kereta api. Tidak sedikit dari mereka yang duduk di atas kereta. Ketika melintasi wilayah lamongan beberapa oknum suporter LA Mania melempari para bonek dengan batu hingga banyak diantara mereka yang terjatuh dari atas kereta. Dalam kasus seperti ini, akal sehat siapa yang membenarkan perilaku tersebut?
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, fanatik berarti teramat kuat pandangan atau kepercayaan, dan di definisikan sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut suatu pandangan atau keyakinan tentang sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah.
Dewasa ini, sepak bola telah berevolusi menjadi hal yang penting. Sepak bola tidak lagi dianggap sebagai aktivitas olahraga belaka, selain sebagai komoditas industri, kini sepak bola berubah menjadi alat yang mampu menggerakan kelompok masyarakat dalam jumlah yang besar. Situasi iklim persepakbolaan yang kompetitif mampu mengangkat rivalitas antar kelompok suporter yang cenderung menonjolkan sisi kedaerahan. Klub dan suporter telah berkolerasi menjadi sebuah sistem sosial yang tidak terpisahkan, suporter adalah pemain ke 12.
Masyarakat menganggap klub sepak bola daerah sebagai pencitraan daerah yang patut di unggulkan, melebihi segalanya. Masyarakat akan bangga setengah mati jika klub sepak bola daerahnya menjadi juara dalam kompetisi nasional, meskipun dari sisi pendidikan dan perekonomian daerahnya masih jauh tertinggal. Orang-orang yang lebih mengedepankan kecintaan terhadap klubnya inilah yang akan  melahirnya fanatisme yang buta.
Fanatisme buta ini mengakibatkan masyarakat menginginkan klub idolanya harus menang, jika tidak dia akan mersa malu dan gengsi. Maka jika klubnya kalah, yang akan menjadi sasaran amarah adalah suporter lawan. Jangankan kesadaran untuk menghargai satu sama lain, aturan dan sportivitas yang semestinya dijunjung dalam sebuah pertandingan menjadi hal yang ditingggalkan. Dalam kondisi inilah, tawuran yang berujung pada timbulnya korban dan rusaknya fasilitas umum menjadi peristiwa yang mustahil dihindari.
Secara internal, rasa fanatik bermuara dari rasa satu visi, satu ideologi dan satu cita-cita yakni “tim kita harus juara”. Fenomena fanatisme sepak bola merupakan komunitas yang memiliki sifat integriti. Para ahli ilmu sosial banyak menganggap fanatisme sepak bola memiliki karakteristik yang sama dengan religi. Hal yang sama dikatakan Emile Durkheim, dia mengutarakan bahwa efek integratif bagi kelompok sosial dapat di asosiasikan dengan religi. Contohnya, jika orang tuaya islam, maka anaknya islam, jika orang tua budha, maka anak pun beragama budha. Hal demikian pun terjadi dalam sepak bola, jika orang tuanya bonek, anaknya cenderung bonek pula, kalau orang tuanya aremania, anaknya cenderung ikut aremania.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang butuh akan kebersamaan, integrasi yang kuat, cinta ataupun fanatisme sepak bola. Hasrat keinginan manusia merupakan instrumen untuk memenuhi eksistensialnya, yang berakar dari eksistensi manusia tersebut. Hasrat yang di inginkan setiap manusia tentu berbeda-beda, meskipun secara eksistensial relatif sama. Dalam konteks suporter sepak bola, setiap suporter memiliki hasrat yang berbeda, ada yang menginginkan kebersamaan, ada juga sebagai bentuk ekspresi kebebasan dan hasrat-hasrat lainya. Perbedaan ini disebabkan latar belakang individu yang berbeda, secara garis besar perbedaan itu lahir dari sistem kelas sosial.
Jika kita amati, orang-orang yang termasuk dalam kelompok fanatisme buta banyak berasal dari kalangan pemuda berstatus ekonomi menengah kebawah yang tidak memiliki pekerjaan yang mapan bahkan tidak sedikit di antara mereka berstatus pengangguran. Akan sangat langka, orang yang disibukan dengan pekerjaanya menyempatkan diri berperang atau bersikap anarkis. Tentu kita bertanya, kenapa mayoritas kelompok fanatisme buta banyak berasal dari kalangan menegah kebawah dan kaum pengangguran?
Masyarakat kelas atas cenderung membawa unsur kedamaian disebabkan keseharian mereka yang berkecukupan, sedangkan masyarakat kelas bawah hidup dalam kekurangan dan ketertindasan yang secara objektif cenderung memberontak.
Faktor lainya, tidak bisa dipungkiri, takdir manusia sebagai makhluk yang memiliki nafsu tentu ingin menunjukan eksistensi dirinya di hadapan orang lain. Media yang kerap kali digunakan untuk menunjukan eksistensinya adalah melalui harta, jabatan atau setidaknya pekerjaan yang bisa dibanggakan. Tapi ini akan bermasalah ketika seseorang tidak memiliki semua itu, manusia pasti akan mencari hal lain yang bisa dia jadikan kebanggaan. Dan tidak sedikit di antara mereka yang memilih klub sepak bola sebagai alat yang bisa dia banggakan. Dan jika apa yang dibanggakan itu terkalahkan dengan apa yang dibanggakan orang lain, secara alamiah individu tersebut tidak akan menerima.
Disisi lain nan jauh disana, pemerintah selaku penyelenggara negara yang berkewajiban melindungi setiap warga negara belum juga berupaya untuk menyelesaikan problem ini. Bahkan pemerintah cenderung menyepelekanya, dan hingga detik ini tidak ada upaya untuk mendamaikan perseteruan antar kelompok suporter. PSSI selaku induk organisasi sepak bola masih juga disibukan dengan jual beli kepentingan kelompok mereka.

Sebagai manusia normal, fitrah kita adalah menyukai kedamaian dan mengutuk setiap perilaku anarkis. Tapi kita juga tidak bisa memungkiri, manusia bukan malaikat yang luput dari kesalahan. Tapi, sudah sepantasnya kita berusaha untuk meminimalisir setiap kesalahan. Dan dalam hal ini adalah meminimalisisr anarkisme akibat fanatisme buta suporter Indonesia. Untuk mensiasatinya, ada beberapa cara yang perlu dilakukan.
Yang pertama, buatlah sistem kompetisi yang baik. Karena kompetisi yang kerap merugikan beberapa klub akan memancing emosi suporter. Selain itu harus ada aturan tagas yang menindaklanjuti setiap perilaku anarkis. Sehingga dapat menimbulkan efek jera dikalanga masyarakat.
Solusi yang kedua adalah sifat kedaerahan yang selama ini menjadi pemicu utama konflik harus bisa di redam. Semangat nasionalisme perlu kembali di gaungkan, hakikatnya kita semua adalah saudara dalam ikatan bangsa Indonesia. Tapi bukan berarti rasa kedaerahan mesti dihilangkan, tapi perlu diarahkan ke hal-hal yang positif. Dalam hal ini peran seorang pemimpin daerah(bupati/walikota) menjadi sangat penting.
Lalu yang ketiga, perbaiki hal-hal teknis yang kerap menjadi pemicu kerusuhan seperti wasit yang tidak profesional atau petugas keamanan yang lalai. Tak bisa dipungkiri, peran seorang wasit dalam sepak bola sangatlah penting, bahkan terkadang hasil pertandingan berada ditanga wasit. Hal inilah yang kerap menimbulkan amarah suporter, sedangkan polisi yang seharusnya mampu mengamankan pertandingan hampir selalu telat dalam bertindak. Ketika sudah rusuh, baru polis turun tangan. Dalam hal ini, organisasi induk sepak bola yang paling bertanggung jawab.
Dan diluar itu semua yang terpenting adalah mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Karena dengan kesejahteraan, masyarakat akan mampu memperoleh pendidikan yang baik. Dan dengan pendidikan itu, masyarakat akan dapat berfikir logis dan sehat. Dengan fikiran yang sehat itulah, segala bentuk perilaku buruk akan mampu di hindari. Semoga kita mampu berada dalam garda depan, dalam memajukan masyarakat Indonesia.

Ditulis Oleh : Folly Akbar // 11:37
Kategori:

0 komentar:

 

Pengunjung

free counters

Buku Tamu

Trafic Pengunjung

Folly Akbar. Powered by Blogger.